Thursday, May 07, 2015

Cerpen : Seuntai Kenangan Dan Pelangi di Atas Pohon Rumbia



Seuntai Kenangan Dan Pelangi di Atas Pohon Rumbia

            Siang hari ini langit terlihat sayu. Biru cerah namun dibingkai cahaya abu-abu. Namun, tak lama kemudian pendar-pendar cahaya biru itu menghilang. Gurat gerimis pun datang. Menandakan hujan kembali membasahi permukaan bumi. Sejak itu pula Sabina harus menghentikan perjalanan lalu menepi untuk berteduh dari derasnya hujan. Dengan hati-hati, Dia menempatkan motor di tempat yang teduh agar benar-benar tidak terkena air hujan. Karena di jok bagian belakang motornya terdapat barang yang berharga untuk saat ini. Barang berharga yang akan diberikan ke Nenek Umi, begitu dia memanggil Nenek Khadijah. Benda berharga itu adalah sebuah kue tart yang dibeli di seberang kota.
            Hari ini begitu istimewa baginya. Hari ini Nenek Uminya berulang tahun. Dia tidak lupa untuk memberikan hadiah hanya sekedar untuk menciptakan kebahagiaan di rumah kecilnya. Walaupun pemberian ini tak sebanding harganya dengan pengorbanan Nenek Uminya selama mengasuh dia dan kedua adiknya.
Kala hujan seperti ini, Sabina teringat akan apa yang ditunggunya sewaktu dulu. Melihat pelangi saat hujan mulai reda. Dia dan ibunya langsung antusias menuju teras lantai atas. Sambil melihat pelangi itu, Sabina selalu meminta ibunya untuk bercerita tentang apa saja. Pelangi itu indah setengah lingkaran di atas pohon rumbia. Terakhir kali dia dan Ibunya melihat pelangi itu sekitar delapan bulan yang lalu. Ketika Sabina merasakan nafas ibunya yang lemah dan sempat memberikan nasehat dan pesan kepadanya.
“Anakku Sabina.”
 “Iya. Tenang Bu semua akan baik-baik saja.”
Seolah tahu, ibunya akan mengeluarkan sepatah kata yang akan diungkapkan.
“Mungkin tidak akan lama lagi akan ada malaikat yang membawa ibu ke langit. Hanya kamu harapan ibu untuk bisa menjaga adik-adikmu. Ibu akan terus melihatmu di atas sana dan jangan sekali-sekali kau menyakiti orang lain. Karena hidupmu akan susah tiada hentinya. Dan bahagiakan orang lain semampumu”
“Tuhan pasti punya skenario indah untuk kita Bu. Pasti.”
Waktu percakapan itu, tubuh Sabina dan Ibunya gemetar menahan perasaan kesedihan yang saling dirasakannya. Sabina tidak siap jika ditinggalkan ibu karena sakitnya. Tidak ada air mata. Hanya hati yang selalu mendesir. Percakapan itulah yang diingatnya hingga kini. Percakapan terakhir antara Sabina dan ibunya.
Dia tidak sempat hadir dalam pemakaman ibunya. Karena dia tidak bisa pulang karena tidak punya biaya. Hidup keluarga Sabina sangat susah namun berkecukupan. Karena nilai keikhlasan hidup takkan ternilai harganya. Saat itu Sabina dan menjalani ujian semester yang sedang kuliah di luar pulau.
Hujan mereda. Hanya tinggal tetesan gerimis tipis yang jatuh ke permukaan. Sabina tidak pikir panjang. Ia lalu menghidupkan motornya dan segera berlalu.
Perjalanan masih lumayan jauh dan masih menyebrangi sungai. Ditengah perjalanan tidak lama kemudian hujan datang lagi dan kali ini dia berteduh di sekolah dasar dimana dia bersekolah dulu. Sekolah ini tidak begitu jauh dari rumahnya sekitar satu setengah kilometer lagi dengan menyebrangi Sungai Martapura.  Dia menunggu sampai dia yakin hujan akan benar-benar mereda.
Sekolah yang dihampiri ini adalah tempat kenangan bagi Sabina dan Ayahnya. Ketika itu sebelum banyak orang tersadar pendidikan itu penting. Dia dan Ayahnya datang ke sekolah ini dengan membawa sejuta harapan. Saat itu perasaan Sabina entah bahagia entah merasa getir. Karena hanya sekitar belasan anak saja yang mau bersekolah. Walaupun begitu Sabina tetap bersemangat belajar dan mempertahankan prestasinya di sekolah. Hingga akhirnya dia bisa meneruskan pendidikannya sampai Perguruan tinggi. Sabina kini kuliah di Universitas terkemuka di Yogyakarta. Berkat prestasinya, kebetulan tempat bekerja ayahnya mengadakan program beasiswa bagi anak para pegawai disana. Ayahnya pun mendaftarkan Sabina. Dan akhirnya lolos dan melanjutkan kuliah di universitas impiannya.
Ayah Sabina adalah seorang penambang batu bara yang sudah tiga tahun yang lalu dipindahkan ke tanah Papua. Bekerja untuk orang lain. Tetapi hasilnya dikirim ke pulau Jawa. Sabina merasakan sendiri perbedaan di tempat tinggalnya dan di perantaunnya di Yogyakarta.
Ayahnya tahu bagaimana memotivasi anak-anaknya. Biasanya dia mengajak anak-anaknya untuk membayangkan kehadiran orang tuanya. Sabina sendiri merasakannya. Saat itu, setelah ayahnya mengantarkan Sabina ke kampusnya dan mulai meninggalkannya, sang ayah tersenyum dan dengan berlinang air mata karena terharu.
“Ayah tidak bisa memberikanmu kado yang istimewa. Seperti yang akan didapatkan teman-temanmu. Tapi ayah berusaha untuk memberikan penghargaan atas perjuanganmu sejauh ini.”
Sabina hanya terdiam dan tersenyum. Menahan harunya. Lalu Ayahnya mengeluarkan sebuah bingkisan yang terkado sangat rapi. Sabina lalu membukanya secara pelan-pelan. Di balik kado itu ia menemukan sebuah kitab suci Al-Quran yang bersampul kulit asli dan terukir indah sebuah namanya. Sabina Altha Faatina. Tersulam rapi dengan benang emas.
“Bacalah seusai sholatmu. Berdoa untuk masa depanmu. Doakan ibu, ayah, dan adik-adikmu serta nenek umi agar sehat selalu. Insya Allah semua akan hadir dalam hari-harimu.”
Sabina mengangguk. Tidak tahan lagi berkata-kata. Sabina langsung memeluk ayahnya dengan linangan air mata. Dia akan selalu merindukan ayahnya
Hujan tak kunjung reda. Sabina akhirnya nekat untuk menerobosnya karena tak ingin menunggu langit berubah menjadi gelap. Saat sampai rumah, ada kebiasaan baru yang bermula dari setahun yang lalu, yaitu ketika bersalaman dan mencium tangan Nenek Umi tidak lupa sambil melihat jari manisnya. Sekedar melihat sebuah cincin dengan hiasan seadanya yang dipastikan tetap berada di jari manis yang indah itu. Dia tidak tahu apa bentuk hiasan itu. Namun itu tidak penting baginya. Karena yang paling penting adalah cincin itu punya makna dan dia merasa cincin itu akan bagus di pakai oleh Nenek Umi. Memang jika diukur cincin itu tidak begitu istimewa bila diukur timbangannya yang hanya dua gram.
             Sampai di rumah Sabina memanggil adiknya. Namanya Della. Di rumah mungil ini hanya tinggal Umi, Della dan Raffi.
            “Dik, Umi Nenek sedang apa?”
            “Itu kak sedang diatas. Ayo kak keatas. Kakak sudah ditunggu dari tadi”
            “Ditunggu? Emang ada apa dik?
            “Sudahlah ayo naik kak” dengan semangat Della menarik tangan kakanya untuk menaiki tangga ke lantai atas. Sabina pun penasaran.
            “Sebentar dik ada yang ketinggalan. Kamu keatas dulu.” Sabina lalu turun dari tangga dan mengambil kue tart yang masih dalam motornya. Lalu dia merapikan bingkisan itu agar lebih bersih dan dipindahkan ke tempat lain. Namun setelah dibuka, betapa kecewanya dia melihat kue tart yang dia bawa dari jauh itu menjadi hancur tak terbentuk. Dengan sedikit rasa kecewa dia lalu memindahkan kue tar tersebut ke sebuah piring dan merapikannya. Setelah itu dia langsung naik ke lantai atas sambil membawa kue tart untuk neneknya.
            Sesampai di lantai atas dia diam terpaku. Ternyata dia benar-benar ditunggu kehadirannya. Sosok yang dirindukannya selama ini sekarang ada di rumah. Sabina langsung memeluk ayahnya dan mencium tangannya yang sudah lama ingin bertemu.
            “Ayah kapan datangnya? Kok tidak kasih kabar kalau mau pulang” kata Sabina.
            “Dari tadi pagi ayah sampai di rumah. Memang sengaja tidak memberitahu kalian. Mau kasih kejutan. Oh iya, Ayah seminggu disini soalnya ada keperluan kantor. Kamu habis dari mana. Lama sekali perginya?” Jawab Ayah.
            “Ah ayah. Senang sekali bikin kejutan. Hehe. Oh iya yah kebetulan hari ini nenek umi berulang tahun. Jadi kita ramai-ramai merayakan ulang tahun nenek Umi. Ini tadi aku keluar beli kue tart untuk nenek umi.”
            Nenek yang berada disamping ayahnya tersenyum bahagia dengan apa yang telah dilakukan Sabina. Sang Ayah pun langsung memberikan selamat doa kepada nenek lalu diikuti oleh Della dan Raffi serta Sabina.
            “Terima kasih Sabina. Kamu berbuat seperti ini untuk nenek”
            “Iya sama-sama Nenek Umi, maaf tahun ini tidak bisa memberikan kado spesial seperti tahun kemarin” kata Sabina lirih.
Mendekatlah Uminya ke dekat wajah Sabina lalu membisikkan sesuatu di telinganya.
“Tidak apa-apa, Nenek Umi senang. Cukup hanya doamu saja untuk kesehatan Nenek Umi. Kau selalu memberikan yang terbaik untukku Sabina. Ini kelihatan begitu istimewa. Terima Kasih nak.” Kata Nenek Umi lembut.
“Selamat ulang tahun Nek, semoga umurnya tambah berkah dan semoga panjang umur agar bisa datang di wisudaku nanti”
Pelangi itu muncul di atas pohon rumbia. Indah berwarna cerah.


 
Oleh : Aditya Zulmi Rahmawan

 

Read more…