Tuesday, February 24, 2015

Aktivisme dan Isu Lingkungan



 Oleh : Aditya Zulmi Rahmawan

        Sebagai manusia yang lemah pernakah timbul pertanyaan, haruskah melupakan lingkungan. Ketika lingkungan sudah memberikan segalanya yang dia punya dan begitu saja kita lupakan perkembangannya. Sempatkah kita saat dikelas memahami pandangan posibilisme dan fisis determinisme. Jika kita mengacu pada kedua pandangan tersebut, kita akan tahu, akan dibawa kemana bumi kita. Semua orang memang berhak meyakini paham mana saja, akan tetapi untuk saat ini sangatlah urgent untuk ditindaklanjuti. Karena kita sebagai manusia telah sama-sama “merubah” bentuk bumi.
Kerusakan di bumi akan menimbulkan dampak negatif dalam perkembangan bumi. Atas nama apapun dan siapapun yang melakukannya harus segera di akhiri. Karena persoalan yang seharusnya krusial ini berpengaruh terhadap segala unsur kehidupan di negara manapun, termasuk Indonesia. Di Indonesia, pengaruh lingkungan yang saat ini semestinya menjadi prioritas kebijakan pemerintah adalah penebangan hutan maupun konversi hutan. Kita telah mendengar bahwa ahli kehutanan dan geologi mengkaji sebuah kasus penebangan di Kalimantan yang berada di daerah Kalimantan Tengah diperkirakan akan menjadi “Sahara mini”. Hal ini disebabkan karena tanah lapisan atasnya begitu tipis dan bisa jadi menghilang. Dampak lain yaitu ketidakberdayaan suku Dayak yang tinggal disana yang terus tergusur dari tempat tinggalnya. Lalu lihat juga keadaan bumi cendrawasih, bumi Papua yang terus menghilang pesonanya, tergerus dalam hasil buminya demi keindahan yang semata-mata hanya sekejap. Penduduk asli pun tidak menerima emas dari bawah tanahnya. Sehingga tidak akan mengherankan, jika suatu ketika mereka akan melakukan perlawanan yang cukup radikal terhadap orang-orang yang mereka anggap membahayakan kelangsungan hidup dan budaya mereka.
Mahasiswa sebagai agent of change diharapkan mampu mengangkat isu lingkungan menjadi isu sensitif. Namun di awal abad 21, gerakan demonstrasi mahasiswa terkonsentrasi pada kondisi kampus dan sistem pendidikan. Seolah enggan untuk fokus memperjuangkan penderitaan rakyat di hadapan penguasa dan pengembang tanah raksasa. Jika rakyat kecil saja sudah enggan dibela, bagaimana membela lingkungan yang saat ini kita masih menggantungkan hidup dengan lingkungan alam. Banyak sekali kontroversi yang menyelimuti dan menggrogoti mahasiswa mulai aktivisme-aktivisme dan romantika perkuliahan sungguh membuat mahasiswa sekarang mengerucut dalam kegetiran.
            Perlu adanya alat perjuangan untuk mewujudkan keseimbangan lingkungan, yaitu melalui media. Diharapkan sumbangan pemikiran-pemikiran yang bisa di publikasikan. Sehingga banyak alternatif jalan keluar yang membangun keindahan bumi kembali. Dalam era globalisasi seperti ini, mudah sekali informasi bisa tersampaikan karena satu orang pembaca akan mengajak orang lain untuk berbuat. Karena hidup adalah berbuat. Bumi tidak akan diciptakan. Kalau kita ada dan tidak berbuat apa-apa. Dan kita pasti akan mati namun bumi akan abadi.


Read more…