Showing posts with label Sajak. Show all posts
Showing posts with label Sajak. Show all posts

Saturday, July 19, 2014

Oro-Oro Ombo: Hamparan Bunga "Lavender"


Ditengah-tengah Oro-oro Ombo
Kawasan Gunung Semeru menyimpan banyak sekali kejutan keindahan alam. Setelah kita menikmati dan mengagumi Ranu Kumbolo jangan melewatkan padang lembah Oro-oro Ombo. Setelah kita merasakan lelah raga mendaki tanjakan cinta, segera mata kita akan melihat hamparan padang savana luas. Hamparan bunga lavender.

Bunga lavender yang bermekaran, betapa cantiknya. Di setiap musim, lembah ini selalu memiliki keindahan yang berbeda. Kalau ingin melihat Oro - Oro Ombo yang sedang ungu begini, datanglah pada musim yang tepat. Datang pada awal musim penghujan (oktober-maret) dan kita akan dimanjakan oleh indahnya hamparan lembah berwarna ungu Oro - Oro Ombo. Jika datang pada musim kemarau (april-september) kita tidak akan menikmati mekarnya bunga lavender.

Oro-oro ombo dikelilingi bukit -bukit dengan pemandangan yang sangat indah, padang rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus seperti di Eropa. Dari sini kita mulai dapat melihat puncak Gungng Semeru yang menyemburkan asap yang dikeluarkan dari Mahameru.


Diorama: Oro-oro Ombo

Engkau ramah menyapa asa pendaki
Semerbak bunga yang berwarna-warni
Seolah tahu telah lama kami menanti
Indahnya sampai merasuk dihati

Ini tarian alam di hamparan yang tak bertuan
Dengan penonton diantara perbukitan
Disini kita akan merindukan kesejukan
Diantara rimbunnya ilalang

Aku duduk diantara rumput sabana yang kau sediakan
Dari pagi sampai malam kau ciptakan alam kesederhanaan
Terkadang hujan kau tahan, seolah panas kau teduhkan
Kau takkan hilang walaupun aku akan pulang

Indahnya hamparan warna kelabu, jingga dan ungu
Membuat mata yang memandang terisak terharu

Engkaulah cahaya bagi kami
Tetaplah menari dan bernyanyi bersama kami
“Aku akan menari bebas dalam damainya angin”
“Aku akan menari bebas dalam damainya angin”
“Aku akan menari bebas dalam damainya angin”
Suara yang terdengar dari lubuk kami

Dan bukan hari ini saja yang kau nanti
Sementara ini kau akan terjaga setiap hari
Karena pemandangan surga tak akan pernah mati
Kau akan tetap abadi

Menyusuri jalan setapak di Oro-oro Ombo
Menikmati mekarnya bunga lavender


Ditengah-tengah mekarnya bunga lavender

Oro-oro Ombo saat musim kemarau bulan oktober. .

Istirahat sejenak sambil menikmati hembusan angin di Oro-oro Ombo

Menikmati damainya alam :)
Bunga lavender ketika musim kemarau tingginya sebadan. Sekitar 1,5 meter. .

























Read more…

Friday, July 18, 2014

Ranu Kumbolo: Keindahan yang Tersembunyi

Ranu Kumbolo
Sore itu, kami siap-siap mendirikan tenda. Udara dingin terus menusuk jaket polar yang rupanya tidak mampu menjadi penghangat diri. Sore itu memang kabut datang dari bukit menyelimuti tempat ini. Itulah kesan pertama setelah lima jam menyusuri jalur pendakian Gunung Semeru. Di tempat ini kita akan disuguhi oleh pemandangan yang sangat indah. Rasa lelah itu akan terbayar melihat akan damainya. Iya, Tempat itu bernama Ranu Kumbolo. Tempat dimana keindahan yang tersembunyi.

Penampakan diri, waktu di sore hari saat datangnya badai kabut. .
Ranu Kumbolo terletak di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Danau ini memiliki luas sekitar 15 hektar dengan ketinggian 2.390 meter di atas permukaan laut. Karena keindahan alamnya sehingga menjadi daya tarik bagi pendaki untuk mendirikan tenda sekedar melepas lelah sebelum melanjutkan ke Puncak Mahameru. Ranu Kumbolo ditempuh dengan berjalan kaki selama 4-5 jam dari Ranu Pane atau pintu masuk jalur pendakian Gunung Semeru. Jarak antara Ranu Pani ke Danau Ranu Kumbolo sekitar 10 km dengan medan pendakian relatif sedikit naik turun. Setiap pendaki yang akan menggapai Mahameru pasti melewati tempat ini, saat pergi ataupun pulang. Akan sangat menyesal jika hanya melewati tempat ini tanpa mendirikan tenda.

Pemandangan Ranu Kumbolo



Badai kabut yang melewati Ranu Kumbolo yang datang dari bukit

Mendaki dengan para sahabat :)
(Kiri ke kanan Yogi sang kapten, Aku, Ulum, Alif, Pujo, Wahyu) 


Pendakian pertama bersama sahabat
(Kiri-Kanan: Bang Ucup, Iqbal, Aku, Alif, Wahyu, Pujo, Kholid, Vico)
Pendakian kedua sama kekasih :)


Pemandangan dari danau ini yang ditunggu adalah sunrise yang muncul dari sela-sela bukit seakan sang surya menyapa. Sehingga tidak lupa untuk mengabadikan setiap detik momen munculnya mentari dipagi hari. Jika kita diluar tenda akan melihat barisan tenda berwarna-warni berjejer di tepian danau yang permukaannya nampak berasap. Tak bisa dibayangkan bagaimana dinginnya air tersebut.

Menikmati pemandangan Ranu Kumbolo di pagi hari. .

Ranu Kumbolo pagi hari

Di sekeliling Ranu Kumbolo terdapat suatu bukit yang legendaris yaitu Tanjakan Cinta. Konon katanya kalau seseorang bisa melewati tanjakan tersebut sambil memikirkan orang yang dia cintai dengan tanpa menoleh dibelakangnya maka hubungannya akan langgeng. Kalau penasaran silahkan dicoba. Sangat romantis :)

Mendaki berdua lebih romantis :D

Background tanjakan cinta :)

Setelah melewati tanjakan cinta kita akan disuguhi oleh hamparan lembah yang sangat luas. hamparan yang sangat indah yang ditumbuhi oleh ungunya bunga lavender. Tempat itu adalah Oro-oro Ombo.

Pemandangan alam Ranu Kumbolo adalah contoh sempurna tempat yang begitu romantis. Bagaimana romantisnya kita dapat melakukannya dengan duduk sendirian atau sambil bergurau dengan teman di tepi punggungan, menatap danau dari kejauhan dengan terpaan matahari pagi yang hangat menenangkan dan berdialog mesra denganNya. Tempat ini tak henti membuat saya berdecak kagum, mengucap syukur, dan menggariskan senyum di wajah.

Mengambil persedian air minum dengan dibantu pohon yang tumbang.
Mengambil air sejauh mungkin dari tepi ranu.

Tempat ini merupakan irisan tepi surga yang sangat bermakna di bumi kita di teras Mahameru. Danau yang terletak di lembah diantara bukit-bukit savana yang hijau dengan pepohonan menjulang tinggi, air danau yang bening menghijau menggoda untuk diselami.

Sajak Ranu Kumbolo

Berjalan dan bertahan aku
Dengan diiringi raga yang membeku
Melintas bukit dengan selimut kabut
Melihat keindahan yang tersembunyi
Tirta para Dewa

Wahai Ranu Kumbolo
Selama itu aku menatap
Sementara itu aku berucap
Ingin untuk mengungkap
Dengan rasa ingin terus berharap

Ranu Kumbolo
Alam yang romantis
Keindahan yang tak pernah habis
Datang membawa asa
Pulang membawa cinta


Ranu Kumbolo saat ditanjakan cinta :)
Ranu Kumbolo diantara warna-waeni tenda
Bukit Sabana di sekitar Ranu Kumbolo
Di Pinggir Ranu Kumbolo menikmati suasana damai :)
Damainya Ranu Kumbolo

Terdapat peraturan yang ketat bahwa setiap pendaki yang camp di sekitar Danau Ranu Kumbolo diharuskan menjaga kebersihan dengan cara membawa kembali sampah bekas bungkus makanan yang mereka bawa menjadi bekal saat trekking. Disarankan untuk tidak meminum air langsung dari danau tapi dimasak dulu, karena danau ini adalah genangan air yang tidak mengalir. Semoga kelestarian Ranu Kumbolo selalu terjaga. Setiap pendaki yang datang dan pergi sadar untuk tetap menjaga kebersihan sekitar danau dengan tidak membuang sampah pendakian dan ‘sampah tubuh’ sembarangan. .

Read more…

Thursday, July 17, 2014

Selamat Malam, Kamu. .



Van Gogh Perspective

Sunyi. Sembab. Riang. Baka. . .
Tidak Ada Kata Lain Ketika Kita Merasa Sendiri
Kita Hanya Bisa Bergumam
Dan Itu Akan Membuat Kita Ada

Dan Aku Bergumam.
Dan Ini Cerita Tentang Kamu. .

Sudah Terlalu Lama Dia Tidak Melawan Yang Biasa Dia Takuti
Hingga Akhirnya Dia Terjatuh Ketika Warna Mahkota Bunganya Berwarna Jingga

Dia Datang Diiring Malam
Dia Pergi Di Saat Malam

Ku Kenangnya Dia Sebagai Racun Jingga
Meninggalkannya Hanya Untuk Dicaci

Sekarang Dia Keluar Seperti Gerombolan Kupu-kupu Yang Keluar Dari Hatinya Yang Kaku.

Aku Memanggilmu Di Tengah Malam, Untuk Mengungkapkan Apa Yang Ingin Dilupakn. .
(Tapi Sudahlah Jangan Kau Dengarkan Aku Malam Ini)

Ini Semua Tentang Kita
Tidak Mau Hilang Karena Air Mata

Dengan Hati Yang Membuncah
Dia Sudah Tenang Sekarang
Namun Aku Pasti Kembali
Dengan Mencari Satu Purnama, Hanya Untukku. .

Selamat Malam, Kamu. .

Surabaya, 16 September 2011

Read more…

SAAT BERULANG TAHUN (Sebagai Kado Ulang Tahunku)


Ketika Aku Termenung Dan Menyalakan Api Di Kesepian. Berjam-jam Bertukar Tempat Dengan Laki-laki Hitam Menirukanku. Aku Menelusuri Sedikitnya Pohon-pohon Berduri Dihiasi Kumbang-kumbang Berwarna Jingga dan Ungu Merayap Dipinggir Bulatan Danau Yang Bertuan. Aku Menangis. Aku Tetap Di Sini. Tak Berbentuk. Masih Terasa Lunak Dengan Diselimuti Bangkai Yang Berumur Belasan.

Di Dalam Mataku Merasakan Kelelahan Yang Tersimpan Tertutupi. Telinga, Hidung Dan Mulutku Terasa Pengap Ingin Menghembus Diam-Diam Seperti Bayangan. Pikiranku ingin Terbuka Melampaui Hasrat, Menggelegarkan Serangkaian Kata-kata Yang Tercipta.

Mimpiku Mempesona Masa Depanku. Menjelma Sebagai Pelunak Bebatuan Di Pinggir Pantai Di Kisaran Air Yang Tak Mengalir.. Aku Masih Dalam Tahapan Itu. Memberontak. Menerjang. Mencari Sesuatu Yang Menggetarkan Hati.

Aku Lelah Merenung Disandaran Cahaya Matahari Lalu Kumatikan Api Di Kesepian. Selamat Ulang Tahun.

Mojokerto, 21 Oktober 2009
2 Dzul Qo’ dah 1430

Read more…

Aku (Bukan) Seorang Pecundang

Aku tidak kemana-mana
Disini saja aku
Aku hanya lelah
Lelah menuruti kemauanmu

Kamu hanya bisa bicara
Menyuruh semaumu
Lalu pergi
Seperti pecundang handal
Pecundang itu kamu

Pecundang itu bukan aku
Aku selalu sukse menghabisi tantangan
Hanya saja tak terlihat olehmu
Yang memang tak kuperlihatkan

Aku punya keinginan dan cita-cita yang kuat
Namun, akibat ocehan mulut besarmu
Kelakuan semaumu membuatku
Ingin membunuhmu
Beralih sudah pkiranku

Aku bingung
Aku hanya lelah
Dan bukan seorang pecundang
Sepertimu


Mojokerto, 4 Ramadhan 1430
25 Agustus 2009

Read more…

Saturday, February 01, 2014

Cerita Diantara Malam-Malam


Langit menciptakan kehangatan di rahasia waktu
Membelah cinta diantara tarian pelangi
Larut hati menunggu sejenak
Sajak-sajak bersiap menghakimi

Sebelum semalam itu tiba....
Desir-desir cinta bergumam bergetar
Menekan halus di dalam ruh
Pelan, menyusup dalam detak jantung

Sebelum semalam itu....
Aku menghembuskan diri di alunan merdu
Semerdu lembutnya kepakan sayap ramah

Di semalam itu....
Langit tak lagi hangat
Membawa masa lalu yang berat
Diantara dingin langit haru kelabu
Menjatuhkan setitik pesan

Masih di semalam itu....
Godam sepi mengguncang ruhku
Merobek kulit dadaku
Mengambil jantung hantiku
Dihempaskannya, tercecar
Tertindas dingin lembabnya malam itu
Seperti tak berarti

Mojokerto, 4 Ramadhan 1430 / 25 Agustus 2009

Read more…